Thursday, June 1, 2017

Tantangan #1 Cara Berkomunikasi kepada Anak

Selamat pagi semuanyaaa..

Hari Senin kemarin, fasilitator kelas bunda sayang memberikan materi yang sangat bermanfaat, yaitu cara berkomunikasi dengan anak dan pasangan. Sering kali ketika kita berkomunikasi, maksud yang seharusnya tersampaikan menjadi tidak jelas karena kalimat yang terucap dari mulut tidak tertata dengan baik, tidak produktif, dan pada akhirnya menimbulkan outcome yang berbeda. Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan, tetapi karena cara penyampaiannya.

Dalam program Bunda Sayang ini, fasilitator memberikan tantangan kepada para peserta untuk mempraktekkan cara berkomunikasi yang baik dan produktif kepada anak dan pasangan selama 10 hari berturut-turut. Berhubung suami saya Rabu kemarin berangkat pagi dan pulang malam, saya mempraktekkan ilmu berkomunikasi dengan anak saya, Kiran, usia 7 tahun.

Ada 11 poin dalam cara berkomunikasi dengan anak, salah satunya adalah, KISS, yang artinya Keep It Short and Simple. Anak-anak itu bukan makhluk yang kompleks, mereka sangat simple. Kitalah sebagai orang tua yang ternyata membuat mereka menjadi kompleks. Dengan apa? Dengan cara kita berkomunikasi. Seringkali cara bicara atau memberikan instruksi ke anak kita cenderung merepet, terlalu banyak yang diperintahkan dan dengan pitch yang tidak terkontrol. Padahal, anak hanya bisa mencerna 1 kalimat tunggal saja. Contohnya kemarin, Kiran meminta untuk menggunakan waktu bermain gawainya lebih awal, padahal ia punya tanggung jawab yang harus ia lakukan, seperti menyiram tanaman, membereskan kasur dan menyapu teras depan. Dia berusaha membujuk saya agar diberikan izi. Dengan strategi KISS, saya cukup bilang, "Kiran lakukan simple stepsnya dulu, baru boleh main gawai". Tapi anak saya tidak puas dengan jawaban saya, dan sayapun mengulang instruksi saya lagi dan dengan intonasi yang biasa. Lama-lama, dia mengerti dan mengerjakan simple stepsnya dulu.
Kebiasaan di keluarga saya, sebelum tidur biasanya kami mengulas kembali beberapa hal bersama-sama. Ketika giliran Kiran, saya menanyakan "What was the nicest thing you did for other people?" Kiran menjawab, "I helped you with the laundry and I gave Wima my toys". Ketika akan memberikan pujian, saya juga berusaha mengunakan kalimat yang produktif. "It was nice of you to help me and share with Wima, Kiran. I am really helped. Im proud of you." Memberikan pujian saya usahakan agar lebih mengakui tindakan yang anak saya lakukan, bukan hanya mengatakan "kamu hebat".

Ketika menerapkan KISS ke Kiran, saya merasa tidak perlu lagi mengulang-ulang kalimat panjang dan hasilnya menjadi lebih efektif. Ketika memberikan pujian dengan kalimat yang produktif pun, saya melihat senyum mengembang di wajahnya, ada rasa bangga dimatanya ketika dia merasa saya mengakui hal baik yang ia lakukan.

Akan ada banyak lagi poin-poin yang bisa diterapkan dalam berkomunikasi dengan anak. Insha Allah, dengan komunikasi yang baik, anak anak mencontoh dan melakukan yang baik. Because after all, monkey see, monkey do.

#level1
#day1
#komunikasiproduktif
#tantangan10hari
#kuliahbunsayiip

Wednesday, May 24, 2017

Kelas Bunsay IIP Batch #3

Hari ini adalah hari pertama saya mengerjakan  tugas di kelas Bunsay IIP batch #3. Berkaca dari NHW dan kehadiran saya ketika diskusi di kelas sebelumnya, terus terang saya ketika akan memulai kelas bunsay ini agak ragu apakah saya akan bisa mengikuti matrikulasi, diskusi, dan tantangan yang diberikan di kelas ini.


Namun, ketika melihat semangat dari teman2 satu angkatan di wag Bunsay dan dukungan dari suami saya, saya jadi terpompa untuk bisa mengerjakan dan menampilkan yang terbaik. Walaupun mungkin akan sering tertinggal dalam diskusi, insyallah saya akan berusaha sebaik mungkin untuk belajar dari para fasilitator dan teman2 semua di kelas ini. :) 

Wednesday, April 8, 2015

Pahlawan Tanpa Jasa itu Dipanggil Petugas Kebersihan

Selamat pagi.  Sudah Jumat lagi saja ternyata. Cuaca juga lumayan cerah hari ini. Berarti bisa kering dong cucian ibu-ibu (dan cucianku juga ;p). apakah perubahan cuaca pagi ini berimbas pada arus lalu lintas juga? Entahlah, tapi yang jelas perjalanan Condet – Simatupang lancar jaya sekali. Di dalam bus 509 yang membawa saya ke tempat pengabdian, mata saya seperti automatically mencari sosok paruh baya ber-vest oranye  yang selalu ada dipinggir jalan membawa sapu panjang, pandangannya selalu menatap ke bawah, seolah tak ingin melewatkan sesuatu di bawah sana. Setiap saya melewati Simatupang, si bapak selalu ada di sana. Berada di sepanjang fly over. Mungkin kehadirannya untuk sebagian orang seperti tak kasat mata, namun mata saya selalu menangkap sosok itu.


Penyapu Jalanan di Jakarta



Petugas kebersihan, baik itu penyapu pinggir jalan, penyapu taman kota, dan penarik sampah setiap rumah adalah orang-orang yang paling berjasa dan paling memberikan kontribusi besar bagi kebersihan. Namun banyak orang yang tidak sadar akan pentingnya kehadiran orang-orang ini. Pernah saya menguping pembicaraan beberapa orang ibu di tukang sayur yang mengeluh naiknya iuran sampah yang diminta tukang sampah di daerah rumah saya. Kurang lebih begini percakapan mereka:

A: “Masa narikin sampah dua kali sehari aja minta naik jadi 30 ribu, mahal amat”. 
B: “Emang, kok si bapak jadi mahal sih bayarannya”

Saya lirik belanjaannya, ada ayam, daging, udang, dan bandeng presto..

Memang besar kecilnya sesuatu yang melibatkan nominal uang itu relative ya. Tetapi dalam kasus ini, para ibu yang komplen itu termasuk dalam keluarga yang berkecukupan, wong tetangga saya ko, jadi saya tahulah. (ngga nyambung ya :D). Yang jelas orang-orang punya mobil pribadi dan yang mampu main dan belanja ke mall saban weekend sih buat saya termasuk kategori orang berada ya. Jadi kalau naik dari 25 ribu menjadi 30 ribu dipermasalahkan sih kayanya absurd aja. Mungkin buat ibu-ibu ini 25 ribu itu hanya untuk sekali belanja di tukang sayur, tetapi buat penarik sampah, itu penghasilan satu bulan. Makanya, merki banget nih orang dalam hati saya. Saya yakin para ibu complainer yang saya ceritakan di atas adalah sample dari apa yang terjadi di masyarakat kita. Banyak dari masyarakat yang mau lingkungan rumahnya bersih tetapi tidak mau membayar dengan harga layak untuk kebersihan itu.

Bapak Penarik Sampah


Tidak banyak memang orang yang mau menjadi petugas kebersihan. Salah satu faktor utamanya adalah minimnya upah yang diterima dan tidak adanya fasilitas kesehatan untuk mereka. Sungguh sangat berbanding terbalik dengan para petugas kebersihan di Negara-negara maju seperti di Amerika atau Inggris di mana pekerja kasar seperti itu diganjar dengan bayaran yang cukup mahal. Saya pernah menonton film documenter produksi BBC yang berjudul The Toughest Place to be  Binman. Ternyata seting film documenter tersebut itu di Jakarta! Dan the toughest place yang di maksud itu adalah ibukota kita tercinta! Duh, malunya. Sampai londo dari Eropa pun tahu mencari pembanding tempat tersulit sebagai tukang sampah ke Indonesia. Sayangnya, video dokumenter ini sudah dihapus dari Youtube karena masalah perizinan dari BBC. Tapi teman-teman bisa menontonnya langsung dari BBC.com. Trailernya bisa dilihat di sini


Wilbur Ramirez and Imam, dua tokoh utama di film dokumenter BBC


Wilbur, bin man dari London, menarik gerobak sampah


Sebenarnya akan banyak orang yang mau menjadi petugas kebersihan kalau saja bayaran dan fasilitas yang didapatkan seimbang dan layak. Gaji cukup, fasilitas kesehatan, jaminan hari tua, dan tunjangan-tunjangan yang didapatkan karyawan dan PNS itu juga didapatkan oleh para petugas kebersihan. Dengan naiknya Bapak Ahok sebagai gubernur, saya harap kseejahteraan para pahlawan kebersihan Jakarta ini bisa lebih diperhatikan. Mungkin tidak hanya tanggung jawab Bapak Ahok, tapi juga seluruh lapisan masyarakat yang merasakan betapa berjasanya pra pahlawan ini. Hargai mereka, bayar mereka sepantasnya.




"Although he works with rubbish, he deserves to be treated with respect. He may be a bin man but he is still a human being."