Hari ini adalah hari kedua saya menerapkan pola berkomunikasi Keep It Shirt and Simple ke Kiran. Setiap hari Kamis, Kiran dan teman-temannya homeschoolingnya berkumpul dan berkegiatan bersama. Sebelum berangkat, saya mengingatkan Kiran untuk menyiapkan semua keperluannya sendiri. To keep it short, saya hanya bilang "Kiran, selesai mandi, Kiran siapkan barang-barang yang perlu dibawa ya". Saya tidak merinci apa saja yang perlu Kiran bawa agar kalimat saya tidak terlalu panjang. Tak lama kemudian, saya lihat Kiran sudah membawa tasnya ke dalam mobil dan saya bertanya lagi, "Baju dan celana sudah ada?". "Sudah", jawabnya.
Ketika sampai di rumah temannya, Kiran lupa untuk mengatakan permisi ketika melewati beberapa orang tua yang duduk dilantai. Sesampainya di rumah, ketika review time, saya menyampaikan tindakan yang ia lakukan tadi. Saya berusaha memberikan kritik yang produktif. Saya mengatakan, "Kiran, tadi bunda melihat Kiran berjalan di depan bibi-bibi tanpa mengatakan permisi, menurut Kiran bagaimana?". Lalu anak saya menjawab, "Tidak bagus, karena aku tidak bilang permisi".
"Menurut Kiran, seharusnya bagaimana?"
"Lain kali aku bilang permisi atau aku lewat jalan yang lain" lanjut Kiran.
Yang menarik dari kejadian hari ini adalah anak saya mengerjakan hal yang saya minta lebih cepat, karena metode Kiss membuat kalimat menjadi lebih tepat guna. Biasanya, ketika saya minta Kiran untuk menyiapkan keperluannya, saya perlu mengulang dua atau tiga kali sampai akhirnya baru dikerjakan. Tapi kali ini hanya satu kali saja.
#level1
#day2
#tantangan10hari
#kuliahbunsayiip
#komunika
Thursday, June 1, 2017
Tantangan #1 Cara Berkomunikasi kepada Anak
Selamat pagi semuanyaaa..
Hari Senin kemarin, fasilitator kelas bunda sayang memberikan materi yang sangat bermanfaat, yaitu cara berkomunikasi dengan anak dan pasangan. Sering kali ketika kita berkomunikasi, maksud yang seharusnya tersampaikan menjadi tidak jelas karena kalimat yang terucap dari mulut tidak tertata dengan baik, tidak produktif, dan pada akhirnya menimbulkan outcome yang berbeda. Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan, tetapi karena cara penyampaiannya.
Dalam program Bunda Sayang ini, fasilitator memberikan tantangan kepada para peserta untuk mempraktekkan cara berkomunikasi yang baik dan produktif kepada anak dan pasangan selama 10 hari berturut-turut. Berhubung suami saya Rabu kemarin berangkat pagi dan pulang malam, saya mempraktekkan ilmu berkomunikasi dengan anak saya, Kiran, usia 7 tahun.
Ada 11 poin dalam cara berkomunikasi dengan anak, salah satunya adalah, KISS, yang artinya Keep It Short and Simple. Anak-anak itu bukan makhluk yang kompleks, mereka sangat simple. Kitalah sebagai orang tua yang ternyata membuat mereka menjadi kompleks. Dengan apa? Dengan cara kita berkomunikasi. Seringkali cara bicara atau memberikan instruksi ke anak kita cenderung merepet, terlalu banyak yang diperintahkan dan dengan pitch yang tidak terkontrol. Padahal, anak hanya bisa mencerna 1 kalimat tunggal saja. Contohnya kemarin, Kiran meminta untuk menggunakan waktu bermain gawainya lebih awal, padahal ia punya tanggung jawab yang harus ia lakukan, seperti menyiram tanaman, membereskan kasur dan menyapu teras depan. Dia berusaha membujuk saya agar diberikan izi. Dengan strategi KISS, saya cukup bilang, "Kiran lakukan simple stepsnya dulu, baru boleh main gawai". Tapi anak saya tidak puas dengan jawaban saya, dan sayapun mengulang instruksi saya lagi dan dengan intonasi yang biasa. Lama-lama, dia mengerti dan mengerjakan simple stepsnya dulu.
Kebiasaan di keluarga saya, sebelum tidur biasanya kami mengulas kembali beberapa hal bersama-sama. Ketika giliran Kiran, saya menanyakan "What was the nicest thing you did for other people?" Kiran menjawab, "I helped you with the laundry and I gave Wima my toys". Ketika akan memberikan pujian, saya juga berusaha mengunakan kalimat yang produktif. "It was nice of you to help me and share with Wima, Kiran. I am really helped. Im proud of you." Memberikan pujian saya usahakan agar lebih mengakui tindakan yang anak saya lakukan, bukan hanya mengatakan "kamu hebat".
Ketika menerapkan KISS ke Kiran, saya merasa tidak perlu lagi mengulang-ulang kalimat panjang dan hasilnya menjadi lebih efektif. Ketika memberikan pujian dengan kalimat yang produktif pun, saya melihat senyum mengembang di wajahnya, ada rasa bangga dimatanya ketika dia merasa saya mengakui hal baik yang ia lakukan.
Akan ada banyak lagi poin-poin yang bisa diterapkan dalam berkomunikasi dengan anak. Insha Allah, dengan komunikasi yang baik, anak anak mencontoh dan melakukan yang baik. Because after all, monkey see, monkey do.
#level1
#day1
#komunikasiproduktif
#tantangan10hari
#kuliahbunsayiip
Hari Senin kemarin, fasilitator kelas bunda sayang memberikan materi yang sangat bermanfaat, yaitu cara berkomunikasi dengan anak dan pasangan. Sering kali ketika kita berkomunikasi, maksud yang seharusnya tersampaikan menjadi tidak jelas karena kalimat yang terucap dari mulut tidak tertata dengan baik, tidak produktif, dan pada akhirnya menimbulkan outcome yang berbeda. Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan, tetapi karena cara penyampaiannya.
Dalam program Bunda Sayang ini, fasilitator memberikan tantangan kepada para peserta untuk mempraktekkan cara berkomunikasi yang baik dan produktif kepada anak dan pasangan selama 10 hari berturut-turut. Berhubung suami saya Rabu kemarin berangkat pagi dan pulang malam, saya mempraktekkan ilmu berkomunikasi dengan anak saya, Kiran, usia 7 tahun.
Ada 11 poin dalam cara berkomunikasi dengan anak, salah satunya adalah, KISS, yang artinya Keep It Short and Simple. Anak-anak itu bukan makhluk yang kompleks, mereka sangat simple. Kitalah sebagai orang tua yang ternyata membuat mereka menjadi kompleks. Dengan apa? Dengan cara kita berkomunikasi. Seringkali cara bicara atau memberikan instruksi ke anak kita cenderung merepet, terlalu banyak yang diperintahkan dan dengan pitch yang tidak terkontrol. Padahal, anak hanya bisa mencerna 1 kalimat tunggal saja. Contohnya kemarin, Kiran meminta untuk menggunakan waktu bermain gawainya lebih awal, padahal ia punya tanggung jawab yang harus ia lakukan, seperti menyiram tanaman, membereskan kasur dan menyapu teras depan. Dia berusaha membujuk saya agar diberikan izi. Dengan strategi KISS, saya cukup bilang, "Kiran lakukan simple stepsnya dulu, baru boleh main gawai". Tapi anak saya tidak puas dengan jawaban saya, dan sayapun mengulang instruksi saya lagi dan dengan intonasi yang biasa. Lama-lama, dia mengerti dan mengerjakan simple stepsnya dulu.
Kebiasaan di keluarga saya, sebelum tidur biasanya kami mengulas kembali beberapa hal bersama-sama. Ketika giliran Kiran, saya menanyakan "What was the nicest thing you did for other people?" Kiran menjawab, "I helped you with the laundry and I gave Wima my toys". Ketika akan memberikan pujian, saya juga berusaha mengunakan kalimat yang produktif. "It was nice of you to help me and share with Wima, Kiran. I am really helped. Im proud of you." Memberikan pujian saya usahakan agar lebih mengakui tindakan yang anak saya lakukan, bukan hanya mengatakan "kamu hebat".
Ketika menerapkan KISS ke Kiran, saya merasa tidak perlu lagi mengulang-ulang kalimat panjang dan hasilnya menjadi lebih efektif. Ketika memberikan pujian dengan kalimat yang produktif pun, saya melihat senyum mengembang di wajahnya, ada rasa bangga dimatanya ketika dia merasa saya mengakui hal baik yang ia lakukan.
Akan ada banyak lagi poin-poin yang bisa diterapkan dalam berkomunikasi dengan anak. Insha Allah, dengan komunikasi yang baik, anak anak mencontoh dan melakukan yang baik. Because after all, monkey see, monkey do.
#level1
#day1
#komunikasiproduktif
#tantangan10hari
#kuliahbunsayiip
Wednesday, May 24, 2017
Kelas Bunsay IIP Batch #3
Hari ini adalah hari pertama saya mengerjakan tugas di kelas Bunsay IIP batch #3. Berkaca dari NHW dan kehadiran saya ketika diskusi di kelas sebelumnya, terus terang saya ketika akan memulai kelas bunsay ini agak ragu apakah saya akan bisa mengikuti matrikulasi, diskusi, dan tantangan yang diberikan di kelas ini.
Namun, ketika melihat semangat dari teman2 satu angkatan di wag Bunsay dan dukungan dari suami saya, saya jadi terpompa untuk bisa mengerjakan dan menampilkan yang terbaik. Walaupun mungkin akan sering tertinggal dalam diskusi, insyallah saya akan berusaha sebaik mungkin untuk belajar dari para fasilitator dan teman2 semua di kelas ini. :)
Namun, ketika melihat semangat dari teman2 satu angkatan di wag Bunsay dan dukungan dari suami saya, saya jadi terpompa untuk bisa mengerjakan dan menampilkan yang terbaik. Walaupun mungkin akan sering tertinggal dalam diskusi, insyallah saya akan berusaha sebaik mungkin untuk belajar dari para fasilitator dan teman2 semua di kelas ini. :)
Subscribe to:
Posts (Atom)
