Sunday, June 4, 2017

Tantangan #4 Cara Berkomunikasi Dengan Anak

Hari ini adalah hari ke 4 saya mempraktekkan metode KISS dan jelas dalam mengkritik dan memuji.
Kiran (7 y.o) sepertinya sedang menguji kesabaran saya hari ini. Kalimat apapun yang saya sampaikan, ia menjawabnya dengan "Why?". Baru ketika saya jelaskan alasannya, ia lalu mengerjakan. Misalnya tadi pagi, saya mengingatkan Kiran untuk mandi, lalu dijawabnya "Why do I have to always take a bath?". Saya jadi menjelaskan lagi alasannya dengan intonasi yang ramah (meskipun saya tahu anak ini tahu mengapa ia harus mandi). Setelah beberapa argumen darinya, saya berikan Kiran pilihan
1. Kalau tidak mandi, badan Kiran akan gatal dan teman-teman yang main akan terganggu dengan bau mulut dan badan Kiran.
2. Kalau Kiran mandi, badan akan wangi dan tidak akan gatal.
Jadi terserah Kiran mau memilih yang mana. Setelah menggalau selama 5 menit akhirnya Kiran mandi juga.

Setelah mandi, saya berikan pujian, "Wah, i see that you have washed all of your body parts and you smell good too". "I like the smell of your clean hair, Kiran"
Anak itu lalu tersenyum, mengatakan "Thank You" dan bergegas memakai baju.

Memang, pilihan kata-kata kita ke pada anak akan mempengaruhi outcome  yang keluar dari si anak. :)

#level1
#day4
#Tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Friday, June 2, 2017

Tantangan #3 Cara Berkomunikasi dengan Anak

Selamat malam,

Masih dalam rangka memenuhi tantangan game pertama kuliah bunsay IIP, saya mempraktekkan metode KISS dan memuji dan mengkritik produktif dengan anak saya Kiran.

Hari ini saya menemani Kiran beraktifitas di Rockstar Gym untuk berenang. Sebelum berangkat, saya menggunakan metode KISS untuk mengingatkan Kiran agar menyiapkan barang-barang yang harus ia bawa. Cukup menggunakan kalimat tunggal.
"Siapkan keperluan yang harus dibawa ke Rockstar ya Ki".
Ada sedikit delay ketika menjawab, karena anak saya masih mau bermain, jadi saya harus memanggil namanya dua kali dan mengulang perkataan saya. Barulah Kiran membereskan barang-barangnya.

Ketika mengkritikpun saya berusaha menyampaikannya dengan bahasa yang jelas. Seperti yang terjadi tadi malam, saya memanggil Kiran untuk mengingatkan agar sikat gigi. Namun Kiran memilih untuk tidak merespon ucapan saya langsung. Setelah saya memanggil namanya 3x, barulah dia menjawab. Setelah menyikat giginya, saya mengajaknya untuk problem solving, dan mencari tahu kenapa ia memilih untuk tidak merespon saya. Kiran bilang kalau ia sedang sibuk melakukan sesuatu. Saya pun menyampaikan kritikan saya.
"Bunda merasa sedih tadi Kiran tidak menjawab panggilan Bunda. Tidak menjawab ketika dipanggil itu tidak baik, Ki karena tidak menghormati orang lain".
"Kalau memang Kiran sibuk, menurut Kiran bagaimana caranya supaya Bunda tahu kalau Kiran sedang melakukan sesuatu?" Tanya saya.

"I will tell you that i am doing something so you dont feel ignored." Jawab Kiran.

Metode KISS ini sangat bermanfaat untuk anak saya, karena biasanya saya ketika memberitahu anak saya cenderung merepet, alias banyak perintah dalam satu tarikan nafas hehehe. Alhasil, anak saya sering lupa instruksi yang ditengah. Misalnya: "Kiran, nanti jangan lupa bawa baju renang, goggle, handuk dan botol minum ya. Dan baju ganti juga jangan lupa masuk ke tas".
Setelah saya ganti kalimatnya menjadi kalimat tunggal, anak saya sekarang jadi terbiasa melakukan satu hal tanpa melupakan hal yang lain.

Begitu juga dengan mengkritik menggunakan kalimat yang jelas dan tepat pada masalah sangat tepat guna. Kiran menjadi lebih mengerti dan memahami persoalan yang terjadi.

#level1
#day3
#tantangan10hari
#kuliahbunsayiip
#komunikasiproduktif


Thursday, June 1, 2017

Tantangan #2 Komunikasi Produktif kepada Anak

Hari ini adalah hari kedua saya menerapkan pola berkomunikasi Keep It Shirt and Simple ke Kiran. Setiap hari Kamis, Kiran dan teman-temannya homeschoolingnya berkumpul dan berkegiatan bersama. Sebelum berangkat, saya mengingatkan Kiran untuk menyiapkan semua keperluannya sendiri. To keep it short, saya hanya bilang "Kiran, selesai mandi, Kiran siapkan barang-barang yang perlu dibawa ya". Saya tidak merinci apa saja yang perlu Kiran bawa agar kalimat saya tidak terlalu panjang. Tak lama kemudian, saya lihat Kiran sudah membawa tasnya ke dalam mobil dan saya bertanya lagi, "Baju dan celana sudah ada?". "Sudah", jawabnya.

Ketika sampai di rumah temannya, Kiran lupa untuk mengatakan permisi ketika melewati beberapa orang tua yang duduk dilantai. Sesampainya di rumah, ketika review time, saya menyampaikan tindakan yang ia lakukan tadi. Saya berusaha memberikan kritik yang produktif. Saya mengatakan, "Kiran, tadi bunda melihat Kiran berjalan di depan bibi-bibi tanpa mengatakan permisi, menurut Kiran bagaimana?". Lalu anak saya menjawab, "Tidak bagus, karena aku tidak bilang permisi".
"Menurut Kiran, seharusnya bagaimana?"
"Lain kali aku bilang permisi atau aku lewat jalan yang lain" lanjut Kiran.

Yang menarik dari kejadian hari ini adalah anak saya mengerjakan hal yang saya minta lebih cepat, karena metode Kiss membuat kalimat menjadi lebih tepat guna. Biasanya, ketika saya minta Kiran untuk menyiapkan keperluannya, saya perlu  mengulang dua atau tiga kali sampai akhirnya baru dikerjakan. Tapi kali ini hanya satu kali saja.

#level1
#day2
#tantangan10hari
#kuliahbunsayiip
#komunika