Hari ini seharusnya saya mengumpulkan tulisan saya hari ke 8, tetapi karena satu dan lain hal, baru sempat saya submit sekarang. But, it is better late than never hihihi.. Bismillah.
Kemarin adalah hari kedua saya menerapkan metode choose the right time dengan pak suami tersayang. Saya memilih untuk melakukan metode ini karena memang inilah kelemahan saya. Sering kali saya berbicara tanpa memperhatikan apakah orang yang saya ajak bicara (terutama suami saya) siap atau tidak. Alhasil, saya jadi kesal sendiri karena merasa tidak ditanggapi dan lama kelamaan suami sayapun terbiasa untuk tidak merespon.
Kemarin saya melakukannya lagi. Saya bicara ketika suami saya sedang mengetik di handphonenya. Akibatnya suami saya berkata, "Bun, kamu lihat ngga aku lagi apa, bisa sabar ngga?". Yaaaa, gagal deh, baru hari kedua saya sudah lupa. Mau saya lakukan lagi, suami saya sudah terlanjur berangkat kerja dan pulang malam hari. Baiklaahh, sepertinya harus saya ulang lagi besok dan saya harus sadar sepenuhnya untuk menggunakan metode Choose the Right ini ketika akan berbicara.
Semangaatt!!
Wednesday, June 7, 2017
Monday, June 5, 2017
Tantangan #5 Cara Berkomunikasi dengan Pasangan
Sudah 5 hari ini saya menerapkan cara berkomunikasi produktif dengan anak saya dan semakin lama hasilnya semakin baik. Hari ini saya akan mulai menerapkan metode-metode yang diajarkan di kelas bunday sayang kepada pasangan saya tercinta hehe. Sewaktu saya masih bekerja, waktu berkomunikasi intensif dengan suami saya terus terang memang kurang. Karena mempunyai usaha sendiri, setiap hari suami saya berangkat agak siang agar bisa bermain dengan Kiran. Namun konsekuensinya, ia biasanya pulang agak malam sekitar jam 10. Setelah saya berhenti dari pekerjaan saya, kami merancang waktu untuk berkomunikasi malam hari, setelah anak kami tertidur. Di akhir pekan biasanya kami meluangkan waktu berdya di sore hari, ketika Kiran sedang bermain di luar bersama dengan teman-temannya.
Suami saya adalah seorang pengajar dan pemerhati Bahasa Indonesia, jadi berbicara yang baik dan benar sering sekali ia ajarkan kepada saya (karena itu pula yang suami saya mau anak saya mencontoh). Ketika bicara, kami terbiasa melihat mata orang yang berbicara. Karena dengan melihat mata yang berbicara, kami juga menghormati orang tersebut.
Suami saya juga biasa memilih waktu yang tepat. Biasanya ketika ada hal yang ingin disampaikannya, ia akan bilang, 'Bun, nanti malam ada yang mau dikerjakan kah? Kalau tidak, ada yang mau aku bicarakan". Dengan begitu, saya bisa meluangkan waktu untuk mendengarkan suami saya.
Namun lain padang lain ilalang, saya biasanya yang tidak bisa menahan diri jika ada hal yang mau saya sampaikan. Sampai sampai suami saya pernah bilang, "Bun, kamu lihat tidak aku sedang apa? Bisa tunggu sebentar?". Aah, jadi malu saya. Beruntung matrikulasi kali ini mengingatkan saya agar melatih metode memilih waktu yang tepat.
Sebagai latihan, tadi pagi ada satu kejadian penting yang saya ingin ceritakan ke suami saya. Karena pagi tadi suami saya cukup hectic mempersiapkan pekerjaannya, saya memutuskan untuk menunda cerita saya, meskipun suami saya sudah meluangkan waktunya tadi. "Nanti malam saja ceritanya" kata saya. Biar lebih khusyuk juga menyampaikannya hehe.
Terus terang saya tipe orang yang ingin langsung bercerita kalau ada apa-apa. Tapi karena demi mempunyai komunikasi yang produktif dengan suami, saya berusaha mrmbuat perubahan dalam cara saya berkomunikasi. Dan sambil menulis blog ini, saya masih menunggu suami saya pulang untuk menyampaikan cerita saya :D
#level1
#day6
#tantangan10hari
#kumunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Suami saya adalah seorang pengajar dan pemerhati Bahasa Indonesia, jadi berbicara yang baik dan benar sering sekali ia ajarkan kepada saya (karena itu pula yang suami saya mau anak saya mencontoh). Ketika bicara, kami terbiasa melihat mata orang yang berbicara. Karena dengan melihat mata yang berbicara, kami juga menghormati orang tersebut.
Suami saya juga biasa memilih waktu yang tepat. Biasanya ketika ada hal yang ingin disampaikannya, ia akan bilang, 'Bun, nanti malam ada yang mau dikerjakan kah? Kalau tidak, ada yang mau aku bicarakan". Dengan begitu, saya bisa meluangkan waktu untuk mendengarkan suami saya.
Namun lain padang lain ilalang, saya biasanya yang tidak bisa menahan diri jika ada hal yang mau saya sampaikan. Sampai sampai suami saya pernah bilang, "Bun, kamu lihat tidak aku sedang apa? Bisa tunggu sebentar?". Aah, jadi malu saya. Beruntung matrikulasi kali ini mengingatkan saya agar melatih metode memilih waktu yang tepat.
Sebagai latihan, tadi pagi ada satu kejadian penting yang saya ingin ceritakan ke suami saya. Karena pagi tadi suami saya cukup hectic mempersiapkan pekerjaannya, saya memutuskan untuk menunda cerita saya, meskipun suami saya sudah meluangkan waktunya tadi. "Nanti malam saja ceritanya" kata saya. Biar lebih khusyuk juga menyampaikannya hehe.
Terus terang saya tipe orang yang ingin langsung bercerita kalau ada apa-apa. Tapi karena demi mempunyai komunikasi yang produktif dengan suami, saya berusaha mrmbuat perubahan dalam cara saya berkomunikasi. Dan sambil menulis blog ini, saya masih menunggu suami saya pulang untuk menyampaikan cerita saya :D
#level1
#day6
#tantangan10hari
#kumunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip
Tantangan #5 Cara Berkomunikasi Produktif Dengan Anak
Hari ini adalah hari ke 5 saya melakukan tantangan berkomunikasi yang produktif dengan anak saya Kiran. Saya masih menerapkan metode KISS dalam setiap kalimat instruksi yang saya berikan ke anak saya. Pada hari ke 5 ini, Kiran sudah lebih paham dan cenderung lebih cepat merespon instruksi dari saya. Walaupun terkadang saya masih harus mengulangnya dua kali baru ia kerjakan. Misalnya instruksi seperti:
"Kiran, sebelum ke rumah nenek, mainannya dimasukkan kembali ke kotaknya ya".
"Habis makan cuci piringnya ya, nak".
Saya dan suami juga menerapkan metode yang sama. Kami juga selalu menerapkan berbicara dengan intonasi yang sabar dan ramah.
Kami juga selalu berusaha memberikan Kiran pilihan, seperti hari ini, hujan turun deras, Kiran meminta izin untuk bermain hujan. Saya memberikan kiran pilihan:
1. Jika mandi hujan, tidak bisa main Xbox (wiken adalah waktu di mana anak saya bisa bermain Xbox)
2. Jika tidak mandi hujan, bisa main Xbox.
Anak saya tetap memilih bermain hujan. Setelah selesai, ia berusaha membujuk saya agar bisa bermain Xbox. Tetapi karena ia sudah memilih bermain hujan, saya tidak membolehkan Kiran bermain game.
Banyak sekali perubahan yang terjadi pada komunikasi antara anak saya dan saya pada khususnya. Kiran jadi lebih paham maksud saya dan mengerjakan instruksinya (walau tidak langsung dikerjakan). Saya pun menjadi lebih sabar dan senang melihat tindakan yang dilakukan oleh Kiran.
#level1
#day5
#tantangan10hari
#komunikasipriduktif
#kuliahbunsayiip
"Kiran, sebelum ke rumah nenek, mainannya dimasukkan kembali ke kotaknya ya".
"Habis makan cuci piringnya ya, nak".
Saya dan suami juga menerapkan metode yang sama. Kami juga selalu menerapkan berbicara dengan intonasi yang sabar dan ramah.
Kami juga selalu berusaha memberikan Kiran pilihan, seperti hari ini, hujan turun deras, Kiran meminta izin untuk bermain hujan. Saya memberikan kiran pilihan:
1. Jika mandi hujan, tidak bisa main Xbox (wiken adalah waktu di mana anak saya bisa bermain Xbox)
2. Jika tidak mandi hujan, bisa main Xbox.
Anak saya tetap memilih bermain hujan. Setelah selesai, ia berusaha membujuk saya agar bisa bermain Xbox. Tetapi karena ia sudah memilih bermain hujan, saya tidak membolehkan Kiran bermain game.
Banyak sekali perubahan yang terjadi pada komunikasi antara anak saya dan saya pada khususnya. Kiran jadi lebih paham maksud saya dan mengerjakan instruksinya (walau tidak langsung dikerjakan). Saya pun menjadi lebih sabar dan senang melihat tindakan yang dilakukan oleh Kiran.
#level1
#day5
#tantangan10hari
#komunikasipriduktif
#kuliahbunsayiip
Subscribe to:
Posts (Atom)